Latest Music :

Total Pageviews

Refa Nada

Refa Nada
Kifayani Alfa Reta . 22 februari 1989

Followers

MTV News

Latest Post

Dangdut akan Didaftarkan ke UNESCO

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Musik dangdut yang sering menjadi cemoohan bagi sebagian pihak, justru akan didaftarkan sebagai budaya Indonesia pada UNESCO. Target mematenkan musik rakyat tersebut tidak main-main, namun masih butuh usaha panjang untuk kesana.

Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI), Surya Akka mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah mengupayakan pendaftaran musik Dangdut ke UNESCO. Upaya itu, kata dia masih perlu dibarengi dengan pembersihan musik Dangdut dari persoalan seks. Selain itu, Dangdut juga harus dibersihkan dari masalah pembajakan.

"Seperti penjiplakan musik dari India, bahkan yang baru santer adalah pembajakan terhadap musik Barat," kata dia pada Republika, Senin (30/4).

Selain itu, tambah ketua Soneta Fans Club Indonesia (SFCI) Jatim ini, juga harus membersihkan musik Indonesia dari pembajakan secara menyeluruh. Saat ini musik dangdut masih dalam tahap pendataan terkait sejarah, lirik lagu, video untuk didaftarakan sebagai cagar budaya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

 Surya berharap, agar musik khas dari Indonesia ini nantinya diambil oleh negara lain. Sebab, saat ini sudah diterbitkan buku tentang musik dangdut oleh seorang peneliti dari University of Pittsburg, Amerika Serikat, bernama Andrew Weintraub.

Weintraub sendiri saat membedah bukunya di Universitas Airlangga mengatakan, dangdut merupakan musik yang memiliki potensi positif. Menurut dia, musik dangdut mudah untuk dimengerti, meskipun kadang orang tidak mengetahui arti liriknya. Dangdut juga merupakan ciri dan identitas dari masyarakat indonesia.

"Karena musik ini dikenal dari Sabang hingga Merauke dan semua lapisan masyarakat," katanya pada wartawan.

Bahkan, tak jarang musik ini menggambarkan realita sosial yang terjadi di masyarakat. Jikapun saat ini musik dangdut identik dengan goyangan dan hal berbau seks, itu hanyalah perkembangan dari budaya penikmat dangdut yang sifatnya lokal. Jadi saat ini dangdut sudah tergeser hanya menjadi budaya lokal.

Dangdut [ wikipedia ]

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar awal dasar dari Qasidah yang terbawa oleh Agama Islam yang masuk Nusantara tahun 635 - 1600 dan Gambus yang dibawa oleh migrasi orang Arab tahun 1870 - sesudah 1888, kemudian menjelma sebagai Musik Gambus tahun 1930 oleh orang Arab-Indonesia bernama Syech Albar, selanjutnya menjelma sebagai Musik Melayu Deli pada tahun 1940 oleh Husein Bawafie, dan tahun 1950 pengaruh musik Amerika Latin serta tahun 1958 dipengaruhi Musik India melalui film Bollywood oleh Ellya Khadam dengan lagu Boneka India, dan terakhir lahir sebagai Dangdut tahun 1968 dengan tokoh utama Rhoma Irama. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.[1]
'

Asal istilah

Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) musik India. Putu Wijaya awalnya menyebut dalam majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan "dang-ding-dut" India.[2] Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut" saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang terpengaruh oleh lagu India.[2]

Pengaruh dan perkembangan

Qasidah masuk ke Nusantara tahun 635 - 1600

Qasidah masuk Nusantara sejak Agama Islam dibawa para saudagar Arab tahun 635, kemudian juga saudagar Gujarat tahun 900 - 1200, saudagar Persia tahun 1300 - 1600 [3]. Nyanyian Qasidah biasanya berlangsung di masjid, pesantren dahwah agama Islam.

Gambus dan migrasi orang Arab mulai tahun 1870

Gambus adalah salah satu alat musik Arab seperti gitar, namun memounyai suara rendah. Diperkirakan alat musik gambus masuk ke nusantara bersama migrasi Marga Arab Hadramaut (sekarang Yaman) dan orang Mesir mulai tahun 1870 hingga setelah 1888, [4] yaitu setelah Terusan Suez dibuka tahun 1870, pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dibangun tahun 1877, dan Koninklijke Paketvaart Maatschappij berdiri tahun 1888. Para musisi Arab sering mendendangkan lagu Arab dengan iringan gambus.
Pada awal abad XX penduduk Arab-Indonesia senang mendengarkan lagu gambus, dan sekitar tahun 1930, Syech Albar (ayah dari Ahmad Albar) mendirikan orkes gambus di Surabaya. Ia juga membuat rekaman piringan hitam dengan Columbia tahun 1930-an, yang laku di pasaran Malaysia dan Singapura.

Musik Melayu Deli tahun 1940

Musik Melayu Deli lahir sekitar tahun 1940 di Sumatera Utara bersama Husein Bawafie dan Muhammad Mashabi, kemudian menjalar ke Batavia dengan berdirinya Orkes Melayu [5].

Irama Amerika Latin tahun 1950

Pada tahun 1950, musik Amerika Latin masuk ke Indonesia oleh Xavier Cugat dan Emundo Ros serta Perez Prado, termasuk Trio Los Panchos. Irama latin ini kemudian lekat dengan orang Indonesia. Kemudian berbagai lagu Minang juga muncul bersama Zainal Combo dan Gumarang. [6]
Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih dapat merasakan sentuhannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan).

Dari musik Melayu Deli tahun 1940 ke Dangdut tahun 1968


Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Musik Melayu Deli awalnya tahun 1940-an lahir di daerah Deli Medan, kemudian musik melayu deli ini juga berkembang di daerah lain, termasuk Jakarta. Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India, sang pencipta Boneka dari India), Husein Bawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif Bahaswan (pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta skor film "Ratapan Anak Tiri" yang sangat populer pada tahun 1970-an). Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga 1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik Melayu yang dimotori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa jayanya.
Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, trompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser 'duel' antara Soneta Group dan God Bless. Praktis sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis bermusiknya. Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).

Interaksi dengan musik lain

Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan memengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut. Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin. Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.

Bangunan lagu

Lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, meskipun demikian bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif. Sebagian besar lagu dangdut tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja.
Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B - A, namun dalam aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini [7] :
Intro - Eksposisi I - A - A - Eksposisi II - B - A - Eksposisi II - B - A - (coda)
Bentuk bangunan lagu dangdut
Urutan bangunan lagu Keterangan
Intro Dapat merupakan pembuka pendek sepanjang 2 - 4 birama berupa permainan instrumental atau rangkaian akord pembuka, bisa juga sebagai vokal resitatif (setengah deklamasi) yang mengungkapkan isi lagu dengan iringan akord terurai (broken chord) atau tanpa iringan, atau bisa juga berupa permainan seruling, kemudian masuk ke Eksposisi I atau Vokal.
Eksposisi I atau Tampilan I Adalah sajian instrumental yang berlangsung sepanjang 4 - 8 birama, dengan instrumen suling, organ, gitar, bahkan sitar atau mandolin secara bergantian. Eksposisi adalah Tampilan kelompok band, berupa aransemen kebolehan band yang disajikan secara khusus untuk memperlihatkan kebolehan. Tampilan I bisa dihilangkan kalau dari Intro langsung masuk Vokal.
Verse A Biasanya berupa melodi dengan nada rendah dan datar sebagai ungkapan pertama isi lagu atau proposta.
Eksposisi II atau Tampilan II Berupa sajian yang kedua instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.
Verse B Biasanya berupa melodi dengan nada tinggi dan berapi-api menjelaskan lebih lanjut isi lagu, atau juga riposta terhadap Verse A. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.
Eksposisi II atau Tampilan II Diulang lagi, berupa sajian yang ketiga instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.
Verse B Mengulang dari Verse B sebelumnya, isinya sama persis dengan Verse B sebelumnya.
Verse A Disajikan sekali lagi untuk menutup lagu, sama persis dengan Verse A sebelumnya.
Coda (optional, boleh dihilangkan) Di akhir lagu kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama, namun juga bisa ditiadakan langsung berhenti, atau diakhiri dengan fade away (jarang terjadi).
Lagu dangdut umumnya juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop





Dangdut dalam budaya kontemporer

Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya, yang terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya serta dari pernyataan yang dikeluarkannya sendiri. Hal ini menjadi salah satu pemicu polemik di Indonesia pada tahun 2003, akibat protesnya terhadap gaya panggung para penyanyi dangdut, antara lain Inul Daratista, yang goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral". Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan. Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas ini.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut. Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.




Tokoh-tokoh

Berikut adalah nama-nama beberapa tokoh penyanyi dan pencipta lagu dangdut populer yang dibagi dalam tiga kelompok kronologis, sesuai dengan perkembangan musik dangdut.

Setelah 1970-an


Era 1970-an

Pra-1970-an

Biodata Ayu Ting ting

Nama penyanyi Dangdut Ayu Ting Ting yang menyanyikan lagu Alamat Palsu ini, sekarang namanya telah menjadi buah bibir ditengah masyarakat. Lagu bercengkok dangdut yang dibawakannya disebut-sebut saat ini sedang merajai tangga lagu ring back tone di Indonesia.

Namun tak pernah terbayang bagi dara kelahiran 20 Juni 1992 itu untuk menjadi seorang biduan dangdut terkenal. Ayu yang mulai masuk dapur rekaman sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu justru bercita-cita menjadi seorang pramugari.

Jika dulu ia hanya menerima Rp 250 ribu sekali manggung, kini untuk tampil setengah jam saja ia mematok Rp 30 juta.

Dara berusia 19 tahun yang fenomenal itu kini memang memasang tarif yang terbilang mahal untuk setiap penampilannya. Meski begitu, pemilik nama asli Ayu Rosmalina itu pernah mendapat bayaran yang jauh di atas normal.

"Dari Rp 250 ribu itu memang udah bayarannya segitu, itu dari jam 7 sampai 10. Itu dari hajatan ke hajatan," ungkapnya

Setelah tenar, Ayu mengaku kehidupan ekonominya semakin membaik. Bahkan, kini dengan hanya membawakan 6 lagu saja ia bisa menerima Rp 30 juta.

"Tigapuluhanlah, itu 6 lagu, setengah jam segitu. Nggak lebih nggak kurang. Itu sekali manggung, kalau acaranya besar kita patokin besar juga," tuturnya.

Biodata Ayu Tingting :
  • Nama Artis : Ayu Tingting
  • Nama Asli : Ayu Rosmalina
  • TempatLahir : Depok
  • Tanggal Lahir : 20 Juni 1992, Zodiak Gemini
  • Profesi : Penyanyi dangdut, presenter, model
  • Tinggi badan : 160 cm
  • Berat badan : 45 kg
  • Prestasi :
    Bintang sari ayu 2006
    Putri Depok 2006
    Mojang Depok, Presenter Kuis (ANTV)
    Album Dangdut (Geol Ajep2)
  • Album : Dangdut (Rekening Cinta), Goyang Sejati (ANTV), Dangdut Yoo (TPI), Kamera Ria (TVRI), Dangdut Pro (TVRI) Foto Ayu Ting Ting Alamat Palsu

Lagu Alamat Palsu sebenarnya telah beredar sejak 2007 lalu, namun berkat Ayu Tingting dan Produsernya yang giat mempromosikan lagu ini, maka baru pada 2011 inilah lagu Alamat Palsu booming, dan menjadi berkah bagi Ayu Tingting untuk memetik ketenaran alias popularitas dan materi yang berlimpah.

Setelah membaca biodata Ayu Ting Ting diatas, maka alangkah lebih komplit bila teman-teman melihat pula koleksi foto Ayu Ting Ting dibawah ini:


Ayu Ting Ting
Ayu Ting Ting 1
Ayu Ting Ting 2
Ayu Ting Ting 3

Dangdut is ........

[ Wikipedia ]Dangdut is a genre of Indonesian popular music that is partly derived from Malay, Arabic, and Hindustani music. It developed in the 1970s among working-class Muslim youth, but beginning in the late 1990s reached a broader following in low class Indonesians, Malaysia, and the southern Philippines.

A dangdut band typically consists of a lead singer, male or female, backed by four to eight musicians. Instruments usually include a tabla, mandolin, guitars, and synthesizers. The term has been expanded from the desert-style music to embrace other musical styles. Modern dangdut incorporates influences from Middle Eastern pop music, Western rock, house music, hip-hop music, contemporary R&B, and reggae.

angdut, Dangdut singer Inul Daratista performing before a crowd of thousands, … [Credit: INOONG/AFP/Getty Images]Indonesian popular music for dancing that combines local music traditions, Indian and Malaysian film musics, and Western rock. The style emerged in Jakarta in the late 1960s and reached the pinnacle of its popularity in the ’70s and ’80s.

Dangdut music arose in the mid-20th century from the desire of young musicians of urban Indonesia to develop a distinct pan-Indonesian musical style that was both modern and appealing to all socioeconomic strata. To that end, innovative musicians appropriated the so-called Melayu music (also called orkes Melayu, literally “Malay orchestra”) of northern and western Sumatra and injected it with elements of other popular traditions.

Melayu music was itself a syncretic form, a product of the encounter between local, Middle Eastern, Indian, and Western musical traditions. The composition of Melayu ensembles varied widely, with flutes, tambourine-style frame drums (ultimately of Middle Eastern origin), violins, and assorted plucked lutes among the most common instruments. The songs were normally sung in Indonesian (a dialect of Malay), although occasionally some were sung in Arabic. To this Melayu foundation musicians added features of Indian—and the related Malaysian—film music, including an Indian style of melodic ornamentation as well as an Indian-rooted rhythmic character. Most notably, they incorporated the Indian tabla (pair of single-headed drums), which sounded a recurrent rhythmic figure expressible verbally as dang-dut (with the stress on the second syllable). It is from this pervasive rhythm that the new genre drew its name. Although no single element of the new music was uniquely Indonesian, the combination of elements yielded a distinctly Indonesian form.

The primary force behind the development of dangdut was Rhoma Irama, although Elvy Sukaesih, Rhoma’s singing partner for a number of years, and A. Rafik also were among the important pioneers of the genre. While many artists remained somewhat conservative in their dangdut endeavours, Rhoma began to push the genre in new directions in the later 20th century. A former rock musician, he was largely responsible for reworking the dangdut sound through the addition of synthesizers, drum set, electric guitars, and bass; however, he retained the dang-dut rhythmic figure (either in the drums, in the bass, or in both), the Indian-style ornamentation, and the Indonesian language, all of which had become hallmarks of the genre. Rhoma also shifted the dangdut repertoire away from light-romantic songs toward songs that addressed pressing social issues and exhorted listeners to mind the teachings of Islam. In the process of creating a new face for dangdut, Rhoma himself took on the persona of a Western-style rock idol, not only on stage but also on-screen as the star of numerous dangdut movies that were box-office sensations across the country. Most of these movies presented moralistic Muslim messages encoded in an indigence-to-affluence narrative.

[Britanica ]Dangdut music rose rapidly in popularity, generating what amounted to a national musical mania in the 1970s and ’80s. At the time, the music appealed foremost to Muslim youths of the lower and lower-middle social classes, while it was widely condemned by the upper classes and the government as a vulgar detriment to society. Indeed, many dangdut songs released during the period were banned from government radio and television broadcasts. By the 1990s, however, the government had come to view the music as an important emblem of Indonesia’s development, and, moreover, the music had attracted a large following across socioeconomic boundaries. Although the mania had subsided by the turn of the 21st century, dangdut music remained a popular—and ubiquitous—form of entertainment, especially in its lighter form, in dance clubs, at parties, and at assorted concert venues throughout the Indonesian- and Malay-speaking areas of Southeast Asia.

Most major cities, especially on Java, have one or more venues that have a dangdut show several times a week. The concerts of major dangdut stars are also broadcast on television.

Rhoma irama terpilih lagi ketua Pammi

Rhoma irama terpilih lagi ketua Pammi

Surabaya (ANTARA News) - Sang "Raja Dangdut" Rhoma Irama akhirnya terpilih lagi secara aklamasi menjadi Ketua Umum Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) periode 2012-2017 dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-3 PAMMI di Surabaya, Minggu.

Dari 20 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAMMI se-Indonesia yang mengikuti munas pada 3-4 Maret 2012 itu, mayoritas peserta masih menghendaki pimpinan Soneta Grup itu menjadi Ketua Umum kembali selama lima tahun ke depan.

Sebelumnya, di sesi penjaringan, terseleksi empat kandidat yang menjadi bakal calon Ketua Umum, namun Khalid Karim (Ketua DPD PAMMI DKI Jakarta) mengundurkan diri.

Sementara itu, Ikke Nurjanah akhirnya lolos menjadi calon Ketua Umum setelah mendapatkan minimal 10 persen dari 20 pengurus DPD PAMMI yang hadir. Dengan komposisi, masing-masing DPD mendapat jatah tiga suara untuk Ketua, Sekretaris dan Bendahara.

Namun, pelantun tembang hits Terlena ini kalah telak ketika mayoritas pengurus DPD PAMMI masih menghendaki figur Rhoma Irama untuk menjadi Ketua Umum PAMMI kali ketiga.

Dalam pidato kemenangannya, Bang Haji (panggilan akrab Rhoma Irama) tetap berkomitmen untuk membersihkan musik dangdut dari tampilan pola berbusana yang menimbulkan kesan seronok dan jorok serta goyangan yang erotis.

"Dangdut tanpa goyang itu bukan dangdut, tapi dilihat dulu model goyangannya," kata musisi kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946 ini.

Menurut dia, model goyangan itu ada dua macam yakni mengandung estetis koreografis dan erotis sensual. Sebagai contoh, penyanyi dangdut yang memiliki goyangan mengandung estetis koreografis yakni Elvie Sukaesih, Camelia Malik, Ayu Soraya dan Ikke Nurjanah.

"Mereka adalah penyanyi-penyanyi dangdut yang sudah berpuluh-puluh tahun berkiprah, namun tanpa menimbulkan kontroversi perihal busana maupun goyangannya," ujar pemilik tembang hits Bujangan ini.

Pemilik asli nama Raden Oma Irama ini juga memiliki program yakni membersihkan musik dangdut dari nuansa musik koplo. "Secara pakem, musik koplo menyimpang dari musik dangdut itu sendiri," tegas ayah kandung Ridho Rhoma ini.

Bahkan, musisi dangdut yang sudah membintangi puluhan film layar lebar ini justru menyarankan untuk musik koplo dapat berdiri sendiri diluar musik dangdut. "Karena saya khawatir, musik koplo dapat mengubah musik dangdut yang sebenarnya. Untuk itu, biarlah musik koplo menjadi genre musik baru diluar musik dangdut," kata Rhoma.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang hadir dan berkenan menutup acara Munas ke-3 PAMMI itu menyatakan dukungan serta mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terpilihnya Rhoma Irama lagi sebagai Ketua Umum PAMMI untuk periode ketiga.

"Memang, sosok Bang Rhoma ini masih belum tergantikan sebagai Ketua Umum untuk sebuah organisasi bernama PAMMI. Dia juga layak menjadi legenda dan tetap layak menyandang predikat Raja Dangdut," ungkap Saifullah Yusuf yang akrab dipanggil Gus Ipul ini.
(T.A052/E011)

Hai Online

INDONESIAN TUNES

Musikator | Blog Direktori Musik Indonesia

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refa Nada - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger